JUDUL: 7 Negara Lockdown Jilid II COVID-19, Perlu Antisipasi Global?

Wayne Collins

Liputan6. com, Jakarta – Bagai makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tak dimakan ayah mati. Pepatah Indonesia tersebut kini mewakili kegundahan hampir semesta negara di dunia yang terdampak pandemi Virus Corona COVID-19.

Mereka dihadapkan dengan pilihan sulit. Memulihkan kondisi ekonomi ataupun menyelamatkan nyawa warganya dari Virus Corona jenis baru.

“Anda tidak bisa menyeimbangkan menewaskan dan ekonomi. Jadi marilah jadikan kesehatan publik sedemikian sehingga membangun membuka ekonomi, dan jangan memperlakukannya sebagai dua kekuatan yang bertentangan, ” kata  Pakar penyakit infeksi terkemuka di Amerika Serikat Dr. Anthony Fauci.

Tenggat Selasa (7/7/2020), kasus positif Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia mencapai 11. 590. 195, bersandarkan Coronavirus COVID-19 Ijmal Cases by Johns Hopkins CSSE , dengan jumlah kematian dengan global tercatat sebanyak 537. 429 jiwa.  

Meski begitu,   sejumlah negara di dunia ada yang mulai melonggarkan pembatasan karena jumlah kasus COVID-19 di wilayahnya melandai. Namun, ada juga negara yang nekat membuka penguncian wilayah atau lockdown   karena situasi ekonomi yang melemah, walau kasusnya masih melonjak.

Akibatnya, gelombang kedua Virus Corona menghantam. Lockdown jilid kedua pun terpaksa dilakukan.

Tercatat, ada tujuh negara yang mulai memberlakukan lockdown  jilid II. Meski, tak secara nasional melainkan hanya di sebanyak bagian negaranya. Antara lain: Spanyol,   Portugal,   Kazakhstan, Inggris, China,   Jerman, dan  Australia.

Kondisi ini sudah diperkirakan bakal terjadi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Dr. Maria Van Kerkhove selaku kepala unit penyakit dan zoonosis WHO  mengatakan, jika langkah penguncian balik dirasa perlu untuk dilakukan, oleh sebab itu para pemerintah negara harus jadi untuk memberlakukannya lagi.  

“Beberapa negara yang telah berhasil menekan transmisi dan aktif kembali, sekarang mungkin mengalami kemunduran, ” katanya dikutip dari laman CNBC International .    

“Pemerintah negara itu mungkin harus melakukan intervensi lagi, mungkin harus melangsungkan apa yang kita sebut lockdown , ” tambahnya.

Di sejumlah negeri, pembukaan kembali  lockdown membuat kasus terlihat menjelma sangat luar biasa. Maria pun  meminta para pemimpin negara segera mengambil alih, untuk menuntaskan perkara ini.

“Belum terlambat untuk membalikkan keadaan.   Saya melihat negara-negara yang berada di situasi luar biasa bisa menelungkupkan keadaan. Belum terlambat menggunakan ancangan komprehensif ini. ” 

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pun memperingatkan dunia bahwa pandemi Virus Corona COVID-19 ini belum mendekati berakhir.

“Kita semua ingin ini berakhir. Kita semua ingin melanjutkan kehidupan, ‘ dan  melanjutkan, Tetapi kenyataan yang sulit adalah ini bahkan belum berakhir. Walaupun banyak negara telah membuat beberapa kemajuan, secara global pandemi ini sebenarnya sedang menyusun. ”

Ia mengungkap, 60 persen kasus Virus Corona dunia sejauh ini muncul di Juni. Karena itu, Tedros meminta semua pihak memakai langkah pencegahan holistik sebagai upaya antisipasi global.

“Tidak hanya testing . Tidak cuma jaga jarak fisik. Tidak hanya melacak kontak. Tidak hanya masker. Laksanakan semua, ” tegas  tempat.

Tedros  juga berpetaruh mengenai pentingnya mengedukasi masyarakat, beserta melatih dan menyediakan perlengkapan untuk petugas kesehatan.

Infografis 7 Negara Lockdown Jilid II Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Secara khusus di Indonesia, WHO menilai risiko penularan secara keseluruhan masih tinggi lantaran transmisi dan pergerakan masyarakat dengan terus berlangsung antardaerah.  

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan secara bervariasi di setiap provinsi. Namun serupa itu, Indonesia masih melaporkan lebih daripada 1. 000 kasus baru di beberapa hari terakhir.

Melalui laporan resmi WHO tentang kondisi pandemi Virus Corona COVID-19 di Indonesia, WHO menyatakan dukungannya bagi Kementerian Kesehatan untuk memperluas pelacakan kontak di seluruh Indonesia.

“Sebagai bagian dari upaya ini, WHO akan menyerahkan bantuan teknis untuk mengembangkan buku pegangan bagi staf lapangan dengan akan dikerahkan untuk pelacakan relasi di tingkat provinsi, ”  membuka laporan resmi WHO.

Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono  mengungkapkan, untuk melihat situasi pandemi COVID-19 di Indonesia, ada kaum aspek yang perlu diperhatikan. Di antaranya melihat daerah kasus lonjakan serta jumlah tes COVID-19 dengan sudah dilakukan.  

“Kita harus melihat lonjakan kasus  COVID-19  di mana, daerah mana saja. Lalu perlu juga diketahui berapa tes (untuk pemeriksaan spesimen) yang dilakukan, ” tutur Pandu kepada Liputan6. com .

“Yang namanya lonjakan (kasus COVID-19) tergantung testing atau faktor lainnya seperti apa. Jika (penambahan kasus COVID-19) dari testing aktif itu bagus, ” imbuhnya.

Pandu menegaskan, di dalam melihat situasi COVID-19 tidak cuma dari lonjakan kasus COVID-19, selalu angka  positivity rate . “Saya melihat bukan hanya soal lonjakan kasus saja, tapi  positivity rate -nya. Artinya, jumlah kasus dibagi jumlah ulangan. Jadi, kalau  positivity rate -nya masih 20 persen ya tinggi. Di bawah tersebut ya 3 persen (angka  positivity  rate   aman)” tegasnya.

“Untuk  positivity rate -nya petunjuk terakhir saya belum tahu seberapa banyak. Karena seringkali tidak dilaporkan. Kita bingung kalau ada penggandaan positif COVID-19, apakah memang pandemi masih tinggi, penularan tinggi. ”

Jika penambahan kejadian COVID-19 yang diketahui dari hasil tes, Pandu menyebut hal tersebut bagus. Itu berarti bisa diidentifikasi.

Data Gugus Suruhan Nasional pada 2 Juli 2020 melaporkan, sejak pertengahan Juni 2020, jumlah kasus baru terkonfirmasi positif Corona di Indonesia berada dalam kisaran 1. 000 kasus per harinya. Namun, hal tersebut tak serta merta menunjukkan angka  positivity rate -nya  luhur.

Epidemiolog Gugus Tugas Nasional Dewi Nur Aisyah menerangkan,   positivity rate   tidak hanya dilihat sebab angka saja, melainkan jumlah karakter yang diperiksa. Secara nasional,   positivity rate   Indonesia mencapai 12 persen.

Angka ini masih di atas standar  positivity rate   yang ditetapkan WHO, yaitu sebesar 5 persen. Bila dibandingkan Mei 2020 lalu,   positivity rate   saat ini lebih rendah.

“Di pertengahan Mei tersedia 3. 448 orang positif di dalam waktu satu minggu. Orang dengan diperiksa ada 26. 000. Siap dari 26, 000 orang tersedia 3. 000 yang positif. Sehingga, angka  positivity rate -nya adalah 13 persen, ”  jelas Dewi.

Ia menambahkan, data pada Juni 2020 dengan rata-rata 8. 000 kejadian baru dalam satu minggu dan orang yang diperiksa mencapai 55. 000, sehingga  positivity rate -nya 12 persen.  

Jika angka nasional 12 persen, maka setiap kabupaten-kota memiliki cerita yang berbeda bila ditelaah dari jumlah orang pasti dibandingkan dengan jumlah orang dengan diperiksa.

“Jumlah urusan terbanyak, misalnya, dari Surabaya, akan tetapi begitu dilihat perbandingan 100. 000 penduduk, ceritanya jadi berbeda. Walaupun Surabaya masuk lima besar, akan tetapi kalau dari data provinsi, tak masuk kedalam lima besar (kasus COVID-19 tinggi), ”  Dewi memungkasi.

dua dari 5 halaman

Kasus COVID-19 Dunia Bakal 2 Kali Lipat pada September

Lebih dari 10 juta orang di negeri tertular  Virus  Corona  COVID-19 sesudah enam bulan wabah pertama dilaporkan muncul di kota Wuhan, China.

Mengutip  ABC Indonesia, Senin (29/6/2020), WHO mengatakan nilai penularan belum melambat, dengan jumlah penularan yang bisa mencapai 20 juta orang di bulan September.

Pandemi global  Virus  Corona  COVID-19 sekarang sudah dilaporkan terjadi di 210 negara dan kawasan, kecuali benua antartika.

Virus  Corona  baru juga sudah resmi dinyatakan sebagai pengantara kematian lebih dari 500 seperseribu orang di seluruh dunia.

Virus ini dengan segera menyebar setelah China melaporkan ke WHO tanggal 31 Desember 2019 soal kasus radang paru-paru yang tidak biasanya di Wuhan.

Bulan Januari, COVID-19 dengan cepat menyebar ke berbagai tempat di China hingga akhirnya mencapai seluruh 31 provinsi di negeri tersebut.

China mengalami puncak kasus dengan adanya 6. 500 kasus dalam masa 24 jam pada pertengahan Februari 2020.

Angka penularan mampu dikendalikan setelah kota Wuhan, dengan penduduk lebih dari 10 juta orang, ditutup sepenuhnya atau ‘lockdown’, ditambah kebijakan ‘social distancig’ & peningkatan jumlah tes.

Pada Minggu 28  Junu, urusan aktif virus corona di China berada di bawah angka 1. 000.

4. 641 orang di China meninggal kelanjutan virus corona, namun sejak akhir Februari korban kematian terbanyak berkecukupan di luar China.

Menyebar Cepat di Sungguh China

Kejadian pertama di luar China dilaporkan terjadi di Thailand, tanggal 15 Januari, kemudian dengan cepat menyebar ke Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Amerika Serikat.

Menariknya, Thailand selama ini hanya mencatat 58 kematian akibat virus tersebut.

Di kamar Maret, pusat penyebaran virus berada di kawasan Eropa.

Tanggal 5 Maret 2002, Eropa mencatat separuh dari kasus virus corona di dunia terjadi pada kawasannya.

Ratusan juta warga Eropa harus menjalani karantina dilarang keluar rumah, di era pemerintah berusaha menghentikan penyebaran virus.

Dua kluster tinggi yang merepotkan pemerintah adalah yang terjadi di Italia Utara.

Di pertengahan bulan Maret, dengan ‘lockdown’ yang ketat, Italia mengalami masa puncak penyebaran virus.

Dalam dua kamar terakhir angka penularan di Italia mulai menurun dan di kausa bulan Juni lalu negara itu kembali dibuka dengan pelonggaran pemisahan perjalanan di dalam negeri.

Hari Sabtu, hanya tersedia 8 kematian akibat COVID-19 dengan dilaporkan di Italia, pertama kalinya angka kematian berada di lembah angka 10 sejak 1 Maret 2020.

Angka penularan di Eropa sudah mencapai titik puncak, meski Rusia kini disebut sebagai daerah penularan baru. Angka kematian di Inggris, Italia, Spanyol dan Prancis dilaporkan terus menyusut.

Virus corona tak mengenal perbatasan negara. Di kamar April, Amerika Serikat menjadi sentral penyebaran baru dan sampai sekarang masih berjuang untuk mengatasinya.

Angka penularan di Amerika Serikat sudah lebih tinggi dibanding seluruh jumlah kasus di Eropa.

Lebih dari utama bulan, 30 persen kasus COVID-19 di seluruh dunia terjadi pada Amerika Serikat.

Lokasi Penyebaran di Dunia

Jika awalnya penyebaran COVID-19 di luar China berlaku di negara-negara maju, seperti dalam Eropa dan Amerika Serikat, saat ini negara berkembang yang menjadi tengah penyebaran.

Banyak negeri di lokasi yang disebut ‘hotspot’ di Amerika Latin, Asia Selatan dan Afrika tampaknya masih hendak lama berjuang untuk bisa menyalahi penyebaran virus tersebut.

WHO menyatakan Amerika Selatan sebagai pusat penyebaran baru di simpulan bulan Mei, dengan angka transmisi setiap harinya di Brasil telah melampaui Amerika Serikat.

Brazil mencatat lebih dari satu, 3 juta kasus, lebih sebab 50 ribu kematian, sementara Peru dan Chile masing-masing melaporkan adanya 250 ribu kasus penularan.

Penularan COVID-19 di Afrika dilaporkan sudah menurun, namun WHO memperingatkana virus ini sekarang sudah ditemukan di luar ibukota masing-masing negara di Afrika.

Kurangnya kemampuan tes dan sediaan lainnya telah dianggap bisa memperlambat penanganan virus corona di zona ini.

Mesir, Afrika Selatan dan Nigeria melaporkan nilai penularan tertinggi di benua Afrika, dimana Afrika Selatan memiliki 30 persen dari sekitar 350 seperseribu kasus di Afrika.

Di Asia Selatan, India sejauh ini yang paling parah tersentuh dengan 500 ribu kasus, keempat terbesar di dunia.

3 dari 5 halaman

Imbauan untuk WNI di Luar Negeri

Salah satu negara yang mengalami ancaman Virus Corona gelombang II adalah China. Separuh juta orang di Provinsi Hebei sebagai upaya mengurangi penyebaran Virus Corona COVID-19. Salah satu wilayah di China yang harus lockdown adalah  Anxin, berjarak sekitar 150 km dari Beijing.

Lewat perwakilan Indonesia di China, pihak KBRI di Beijing telah membenarkan adanya kekhawatiran penyebaran Corona COVID-19 gelombang ke-2.

Beijing raises emergency response level… All Indonesians in Beijing please be updated and observe current local regulations. Keep healthy and safe , ” tulis akun resmi @KBRI_Beijing .

Imbauan kepada WNI yang ada di Beijing maupun kota lain di China juga dilakukan. Lewat sejumlah media sosial di China, negeri RI telah mengingatkan sejumlah kejadian kepada WNI kita.

Mulai dari penggunaan masker & mempraktikkan social distancing . Selain itu, KBRI Beijing juga meminta WNI menghindari keramaian, termasuk pasar.

KBRI juga meminta warga Indonesia dengan ada di China untuk mematuhi peraturan setempat dan menghubungi hotline KBRI Beijing apabila memerlukan bantuan.

“Imbauan. Sehubungan dengan ditemukannya kasus baru COVID-19 di Beijing, KBRI Beijing kembali mengimbau warga masyarakat Indonesia untuk senantiasa bersikap waspada dan mengedepankan keyakinan kehati-hatian, ” tweet @KBRI_Beijing .

KBRI juga meminta warga Indonesia yang ada di China untuk mematuhi peraturan setempat dan menghubungi hotline KBRI Beijing apabila memerlukan sandaran.

Sementara itu, menurut Juru Bicara Kementerian Luar Kampung RI Teuku Faizasyah hingga era ini, upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah mengimbau agar WNI tidak terlebih dahulu bepergian ke luar negeri.

“Pada prinsipnya WNI juga belum bisa bepergian karena banyak negara dengan belum bisa memproses permohonan visa, ” ujar Teuku Faizasyah.

4 dibanding 5 halaman

7 Negeri Lockdown Jilid II

Spanyol baru saja melonggarkan lockdown di negaranya, tetapi kini pemerintah memutuskan akan kembali menerapkannya. Kebijakan ini diambil karena kasus mutakhir melonjak lagi hingga ratusan.  

Lockdown berjilid itu tak hanya dilakukan Spanyol. Portugal yang bersebelahan dengan Spanyol selalu sudah mengunci kembali mobilitas masyarakat sejak akhir bulan lalu.  

Dalam Portugal, lockdown terjadi di ibu kota Lisbon. Menurut laporan Euro Weekly News , 77 persen kasus baru Virus Corona terjadi di ibu kota.  

Di Asia, Kazakhstan juga memutuskan kembali melakukan lockdown karena kasus meroket pada bulan lalu. Selengkapnya, berikut 7 negara yang akhirnya kembali melakukan lockdown .  

1. Spanyol

Dua pekan lalu, Spanyol baru melonggarkan  lockdown .   kini BBC mengadukan bahwa wilayah Catalunya dan Galisia. Masyarakat tak boleh bebas keluar-masuk daerah.  

Di Galisia, distrik A Marina yang memiliki 70 ribu penduduk cuma mengizinkan pekerja keluar-masuk di wilayah itu. Masyarakat juga tak bisa berkumpul dengan lebih dari 10 orang.  

Daya bar dan restoran juga cuma boleh 50 persen saja. Walaupun demikian, masyarakat masih boleh berpergian di dalam A Marina.  

Sementara, Catalunya melakukan lockdown di distrik  Segriƃ. Masyarakat tidak bisa lagi bebas keluar-masuk daerah itu.

2. Portugal

Ibu kota Lisbon sedang kembali lockdown tenggat 14 Juli mendatang.   Euro Weekly News  melaporkan masyarakat hanya bisa keluar rumah untuk kegiatan-kegiatan pokok.

Menurut  CoronaTracker, ada 43 ribu kasus Virus Corona di Portugal. Sebanyak 29 ribu sudah sembuh dan 1. 614 meninggal dunia.

3.   Kazakhstan

Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mengumumkan negaranya akan menyelap ke lockdown jilid II pada pekan depan. Kasus di Kazakhstan terpantau melonjak tinggi dalam dua pekan terakhir.

Kazakhstan sebetulnya baru saja keluar dari era darurat akibat Virus Corona di Mei lalu. Kini, Presiden Tokayev berkata lockdown jilid II dapat tetap diperpanjang.

“Pemerintah telah menyerahkan rencanana karantina selama besar minggu dimulai pada 5 Juli (dengan kemungkinan perpanjangan), ” ujar Presiden via Twitter, Kamis 2 Juli 2020.

4.   Leicester, Inggris

Kota Leicester, Inggris, akan memberlakukan lockdown atau karantina wilayah setelah mengalami peningkatan kasus baru Virus Corona COVID-19.  

Sebelumnya, pemerintah setempat sedang mempertimbangkan langkah itu, namun  pekan lalu kota ini kesimpulannya memberlakukan  lockdown .  

Pada situs sah pemerintah  Leicester, masyarakat diminta hanya bepergian apabila penting. Perintah Work From Home juga kembali digencarkan.  

Tempat-tempat seperti restoran, bioskop, pub, perpustakaan, taman, serta lain sebagainya diputuskan untuk menutup.  

5. Hebei,   China

China  memberlakukan penguncian saksama pada hampir setengah juta orang di Provinsi Hebei sebagai jalan mengurangi penyebaran Virus Corona COVID-19 pada Minggu, 28 Juni 2020.

Kebijakan ini diterapkan setelah pihak berwenang memperingatkan wabah itu masih menjadi ancaman. Bisa semakin parah dan rumit, demikian dikutip dari laman  Channel News Asia, Senin, 29 Juni 2020.

Para pejabat kesehatan mengatakan, wilayah Anxin–sekitar 150 km dari Beijing–akan “sepenuhnya tertutup serta dikendalikan”.

Langkah-langkah selektif itu sama dengan yang diterapkan pada puncak pandemi di Praja Wuhan awal tahun ini.

“Hanya satu orang dari setiap keluarga yang diizinkan keluar sehari sekali untuk membeli hajat seperti makanan dan obat-obatan, ” kata satuan tugas pencegahan epidemi di kabupaten itu dalam suatu pernyataan.

6.   North Rhine-Westphalia, Jerman

Jerman memberlakukan balik penutupan wilayah atau lockdown di dua distrik bagian barat North Rhine-Westphalia yang berdampak pada ratusan ribu orang. Hal itu dilakukan otoritas setempat menyusul merebaknya Virus Corona COVID-19 di pabrik pengolahan daging.

Ini adalah yang terbaru dari serangkaian perebakan di pabrik pengolahan daging pada seluruh dunia. Pandemi itu melahirkan kekhawatiran di Eropa bahwa pelonggaran pembatasan terkait Corona COVID-19 mampu memicu gelombang kedua pandemi.

Otoritas negara itu menetapkan pembatasan lokal pada Selasa 23  Juni di dua distrik  Jerman, hanya beberapa minggu setelah Jerman membuka kembali bisnisnya secara nasional.

7.   Victoria, Australia

Victoria, yang merupakan negara periode terpadat kedua di  Australia, di Minggu  21 Juni kemarin memperpanjang status daruratnya selama empat pekan hingga 19 Juli.  

Australia  kini tengah berjuang untuk melawan lonjakan infeksi Virus Corona  dengan adanya peningkatan transmisi lokal.  

Siasat itu diberikan sehari setelah Australia mengumumkan akan memberlakukan kembali pemisahan untuk pengunjung ke rumah awak.

Kebijakan tersebut menyekat kunjungan rumah warga  menjadi lima orang dan pertemuan luar ruangan menjadi 10, yang dimulai di Senin lalu.  

  Sebelum pembatasan itu, di 1 Juni, pelonggaran sudah dikasih, yang mengizinkan kunjungan rumah masyarakat hingga 20 orang dan pertemuan.  

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di kolong ini: