Kelompok Masjid At Tin TMII Bersyukur Bisa Kembali Salat Jumat

Wayne Collins

Liputan6. com, Jakarta – Masjid At Tin Rajin Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, menggelar salat Jumat berjemaah perdana usai penutupan sejak April 2020 akibat wabah virus Corona atau Covid-19.

“Hari ini perdana salat Jumat berjemaah, kalau salat fardhu sudah sejak kemarin, Kamis (4 Juni 2020), ” kata Kepala Bidang Peribadatan Masjid At Tin, Karnadi, sesuai dilansir Antara .

Menurut Karnadi, pelaksanaan salat berjemaah dikerjakan setelah muncul izin dari Departemen Agama serta imbauan dari Mahkamah Ulama Indonesia (MUI). Pelaksanaannya pun menerapkan protokol kesehatan.

Pengelola masjid membatasi jumlah himpunan dari yang semula berkisar 9. 000 orang, kini maksimal cuma 5. 000 orang. Saf bertelingkah satu meter per jemaah. Selain itu, jemaah yang datang wajib mencuci tangan serta diperiksa suhu tubuhnya menjelang masuk ke pada masjid.

Petugas sebab Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At Tin juga tampak bersiaga di selasar untuk mengingatkan jemaah membawa sajadah sendiri.

“Saya bersyukur sekali bisa salat teristimewa. Tadi tahunya dari suara adzan diumumkan kalau At Tin menerapkan salat Jumat berjemaah lagi, ” kata Afrizal (33), salah mulia jemaah asal Cipayung.

2 dari 3 halaman

Fatwa MUI perkara Salat Jumat

Menawan Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pedoman tentang penyelenggaraan salat Jumat & jemaah untuk mencegah penularan wabah Covid-19. Hal ini menyusul kesimpulan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membolehkan salat Jumat dikerjakan per hari ini.

Fatwa MUI bernomor 31 Tarikh 2020 yang diterima Liputan6. com, Jumat (5/6/2020) ditandatangani Ketua Tip Fatwa MUI Hasanuddin AF & Sekretaris HM Asrorun Ni’am Sholeh. Fatwa itu menjelaskan tentang ketentuan umum penyelenggaraan salat Jumat. Dengan pertama terkait dengan saf doa jemaah.

Disebutkan, membenarkan dan merapatkan saf (barisan) dalam salat berjemaah merupakan keutamaan serta kesempurnaan berjemaah. Namun untuk iklim pandemi Covid-19 saat ini, ketentuan tersebut dapat dikecualikan.

“Salat berjamaah dengan saf dengan tidak lurus dan tidak rapat hukumnya tetap sah tetapi kematian keutamaan dan kesempurnaan jemaah, ” tulis fatwa tersebut.

“Untuk mencegah penularan wabah Covid-19, penerapan physical distancing saat doa jemaah dengan cara merenggangkan saf hukumnya boleh, salatnya sah & tidak kehilangan keutamaan berjemaah sebab kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah, ” jelas fatwa itu.

Kemudian terkait pelaksanaan doa Jumat, disebutkan dalam fatwa MUI pada dasarnya salat Jumat hanya bisa diselenggarakan satu kali di kepala masjid pada satu kawasan. Tetapi jika jemaah salat Jumat tak dapat tertampung karena adanya penerapan physical distancing, maka boleh dilakukan ta’addud al-jumu’ah (penyelenggaraan salat Jumat berbilang) dengan menyelenggarakan salat Jumat di tempat lainnya seperti musala, aula, gedung pertemuan, gedung olahraga, dan stadion.

“Jemaah boleh menyelenggarakan salat Jumat di masjid atau tempat lain dengan telah melaksanakan salat Jumat secara model shift, dan pelaksanaan salat Jumat dengan model shift hukumnya sah, ” kata fatwa itu.

Kemudian, penggunaan masker yang menutup hidung saat doa hukumnya boleh dan salatnya terang karena hidung tidak termasuk bagian badan yang harus menempel dalam tempat sujud saat salat.

“Menutup mulut saat doa hukumnya makruh, kecuali ada hajat syar’iyyah. Karena itu, salat secara memakai masker karena ada hajat untuk mencegah penularan wabah COVID-19 hukumnya sah dan tidak makruh, ” demikian Fatwa MUI tersebut.

MUI juga menyarankan agar pelaksanaan salat Jumat dan jemaah perlu tetap mematuhi aturan kesehatan, seperti memakai masker, mendatangkan sajadah sendiri, wudlu dari sendi, dan menjaga jarak aman. Selain itu, khatib juga diminta memperpendek khutbah Jumat dan memilih referensi surat al-Quran yang pendek zaman salat.

“Jemaah yang sedang sakit dianjurkan salat dalam kediaman masing-masing, ” demikian anjuran dari MUI.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: