Keluaran Kesehatan Jadi Prioritas Belanja Awak, Industri Lokal Diminta Ambil Peluang

Wayne Collins

Liputan6. com, Jakarta Saat ini, kebutuhan keluaran alat kesehatan dan farmasi meningkat seiring penanganan wabah Covid-19. Bahkan, diprediksi belanja produk farmasi menjadi salah satu prioritas masyarakat.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membakar industri alat kesehatan dan farmasi untuk mengambil peluang dengan memenuhi permintaan masyarakat terhadap produk-produk kesehatan tubuh tersebut

“Industri alat kesehatan dan farmasi merupakan sektor yang masuk kategori high demand. Kondisi ini perlu dimanfaatkan dengan baik, untuk mewujudkan independensi Indonesia di sektor kesehatan dan farmasi, ” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di pertemuan virtual dengan Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) & Gabungan Pengusaha Farmasi, Rabu (13/5/2020).

Tingginya kebutuhan itu dapat dilihat dari jumlah obat-obatan maupun alat kesehatan yang telah digunakan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Menperin menyampaikan, hingga saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyalurkan kira-kira 8 juta alat kesehatan bagaikan alat pelindung diri (APD), googles, sarung tangan medis, masker, cara rapid test, dan lainnya untuk penanganan wabah Covid-19. Selain itu, telah disalurkan juga 10 juta tablet obat-obatan dan vitamin.

Menperin menjelaskan, rata-rata Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) daripada alat kesehatan sudah mencapai 25-90 persen.

Hal itu merupakan capaian positif yang kudu dijaga sehingga sektor farmasi serta alat kesehatan dapat mengoptimalkan tujuan baku yang berasal dari di dalam negeri.

Peningkatan utilisasi TKDN merupakan kunci utama agar Indonesia dapat menjadi negara yang mandiri di sektor alat kesehatan tubuh dan farmasi.

Tingginya impor di sektor alat kesehatan tubuh dan farmasi sebenarnya merupakan suatu peluang yang harus dimanfaatkan oleh pelaku industri tanah air untuk meningkatkan kandungan dalam negeri di setiap produknya.

Pemimpin Joko Widodo sebelumnya telah menodong agar inovasi alat kesehatan, seperti alat pengujian dengan metode polymerase chain reaction (PCR) maupun nonPCR serta ventilator, mulai bisa diproduksi dengan massal.

“Sehingga tak tergantung lagi pada produk-produk memasukkan dari negara lain, ” kata Presiden.

2 dari 2 halaman

TKDN

Untuk mendorong pengembangan industri bahan baku obat dalam negeri, Kemenperin segera melahirkan peraturan Menteri khusus mengatur peraturan cara perhitungan TKDN produk farmasi. Aturan baru tersebut akan menjunjung pengembangan bahan baku dan penelitian farmasi di dalam negeri.

“Penghitungan TKDN untuk keluaran farmasi sebelumnya berbasis biaya, secara aturan baru menjadi berbasis di dalam proses, ” jelas Menperin.

Peluang ini juga dibantu oleh potensi bahan baku obat dari alam yang banyak terdapat di dalam negeri. Bahan baku asli Indonesia tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan substitusi impor untuk pabrik farmasi dalam rangka pengembangan obat modern berbasis bahan alam (OMAI).

Lebih lanjut, saat ini terjadi tren meningkatnya penggunaan produk-produk kesehatan oleh masyarakat. Tren ini berpotensi tumbuh dan berkembang menjadi kondisi new-normal atau ‘kenormalan baru’.

Dengan iklim ini, masyarakat akan menjadikan honorarium farmasi sebagai prioritas. Dalam pertemuan tersebut, Menperin juga membahas kelanjutan industri ventilator yang dirintis dalam negeri.

Masa ini, Kemenperin berkoordinasi dengan 4 tim dari sekolah tinggi yang sedangkan melakukan persiapan untuk memproduksi secara massal alat medis yang tingkat kebutuhannya melonjak tersebut.

Tim-tim tersebut adalah Tim Jogja yang dimotori Universitas Gadjah Mada, Tim Universitas Indonesia, Tim Institut Teknologi Bandung, serta Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

“Ventilator yang sedang dikembangkan oleh salah satu sekolah tinggi saat ini sudah dalam tahap uji klinis serta penjajakan dengan daerah industri untuk mempersiapkan tahap buatan massal. Kami berharap dalam periode dekat ventilator ini dapat lekas diproduksi untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, papar Menperin.

Ia menambahkan, salah satu pengembang, yaitu Tim Jogja, sedang membuat ventilator dengan menggunakan teknologi tinggi.

“Yang tadinya nihil kemampuan untuk membuat ventilator, dalam waktu yang sangat singkat benar bisa mengembangkan untuk kebutuhan penderita Covid-19, ” ungkap Menperin.

Kemenperin berkomitmen untuk menanggung sektor industri, termasuk farmasi & alat kesehatan, agar dapat tetap berproduksi dan memenuhi kebutuhan kelompok.

Oleh karena tersebut, Kemenperin memberikan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) kepada industri untuk tetap beraktivitas dalam masa pandemi sekarang.

“IOMKI adalah komitmen dari awak agar industri bisa tetap hidup, namun harus dengan memperhatikan adat kesehatan. Industri harus tetap bekerja karena mereka merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian Indonesia, pungkas Menperin.