Susunan Terbaik Timnas Indonesia dalam 10 Tahun Terakhir

Wayne Collins

Jakarta – Dalam 10 tahun terakhir Timnas Indonesia banyak menemui pasang surut yang luar natural.   Animo masyarakat yang besar  di Piala AFF 2010 sangat istimewa meski berakhir tragis. Dualisme kepengurusan PSSI yang berimbas ke mana-mana pun juga memengaruhi prestasi tim Garuda di level internasional. Tapi, dalam 10 tahun itu, sejumlah pemain mampu memperlihatkan performa terbaiknya di tim nasional.

Pecinta sepak bola Indonesia tentu masih ingat bagaimana langkah istimewa Timnas Indonesia di Beker AFF 2010, di mana zaman itu Indonesia menjadi tuan sendi bersama Vietnam. Bermain di kolong asuhan Alfred Riedl, tim Nusantara memiliki skuad yang mumpuni. Tak hanya ada nama Bambang Pamungkas, Hamka Hamzah, dan Firman Utina, saat itu Irfan Bachdim dan Cristiano Gonzales sudah masuk dalam skuat Garuda.

Namun, performa Tim Garuda di Piala AFF 2010 sudah tragis di pertandingan puncak. Tim nasional Indonesia kalah menyesakkan dalam langgar kontra Malaysia yang digelar di dalam dua leg. Tim Garuda dengan sudah di ambang juara buat pertama kalinya dalam sejarah Beker AFF, harus kembali memupus jalan masyarakat Indonesia.

Kecemerlangan Tim Garuda yang berakhir tragis bukan akhir dari segalanya. Sepak bola Nusantara kemudian diuji dengan adanya dualisme, mulai dari kepengurusan federasi, persaingan, dan bahkan sampai di lapisan klub, mulai dari 2011 maka 2013.

Performa Timnas Indonesia pun ikut terpengaruh, di mana pemilihan pemain saat tersebut ditentukan lewat di kompetisi mana para pemain tersebut berlaga. Aji Santoso, Nilmaizar, Luis Manuel Blanco, Rahmad Darmawan, dan Jacksen Tiago yang sempat menangani Tim Garuda tak mampu mengangkat performa awak.

Belum lagi ditambah dengan pembekuan PSSI oleh Negeri Indonesia melalui Kemenpora, yang berimbas kepada Indonesia mendapatkan sanksi lantaran FIFA pada 2015. Dicabutnya hukuman pada 2016, menjadi awal dari harapan baru.

Alfred Riedl kembali ditunjuk menjadi guru Timnas Indonesia dan mengantarnya kembali sampai ke final Piala AFF 2016. Sayangnya, seperti halnya di dalam 2010, Tim Garuda hanya membuktikan hingga laga puncak hingga kesudahannya kalah dari Thailand di laga tersebut.

Setelah itu, PSSI kurun baru yang dipimpin Edy Rahmayadi memutuskan untuk membentuk Tim Garuda dengan kekuatan pemain muda. Prestasi Timnas Indonesia U-22 di kolong asuhan pelatih asal Spanyol, Luis Milla, pun sangat bagus, akan tetapi tetap tidak mampu meraih bahan di SEA Games 2017 serta Asian Games 2018.

Kepemimpinan Bima Sakti yang melangsungkan tugas Luis Milla dan menggunakan pemain muda dalam membimbing Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 pun tak terbukti ampuh. Tim Garuda belum mencapai puncak performanya.

Namun dari lima pergelaran Piala AFF dari 2010 hingga 2018, ada sejumlah pemeran yang tetap mampu memperlihatkan prestasi luar biasa bersama Timnas Indonesia . Kali ini, Bola. com memilih 11 pemain dari setiap posisi sebagai yang terbaik dari Timnas Indonesia dalam kepala dekade terakhir.

2 dari 7 kaca

Kurnia Meiga di Lembah Mistar Gawang

Sejak 2010 hingga 2020, Tim nasional Indonesia punya kaum kiper yang menjadi andalan. Tiba dari Marcus Horison hingga Andritany Ardhiyasa.

Namun, bicara dewa pelindung di bawah kayu gawang, Timnas Indonesia punya dengan terbaik dalam diri Kurnia Meiga Hermansyah. Sejak AFF 2010, pada mana Marcus Horison menjadi kiper utama, Kurnia Meiga sudah tersedia di dalam tim asuhan Alfred Riedl sebagai kiper ketiga, dalam belakang Marcus dan Ferry Rotinsulu.

Kurnia Meiga baru mendapatkan debutnya saat Timnas Nusantara menghadapi Arab Saudi dalam pertarungan kualifikasi Piala Asia 2015. Zaman itu Timnas Indonesia kalah 1-2 dari Arab Saudi di Gelanggang Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada 2013.

Adik dari Achmad Kurniawan yang juga merupakan mantan kiper nasional itu kemudian menjadi pilihan pokok dalam dua pertandingan pertama Timnas Indonesia di Piala AFF 2014. Sayang, Tim Garuda harus berlaku imbang 2-2 dengan Vietnam serta kalah 0-4 dari Filipina dalam laga itu.

Enam gol bersarang di gawang Kurnia Meiga yang membuat pelatih Alfred Riedl memutuskan memainkan Made Wirawan pada laga terakhir fase perserikatan. Apalagi, Timnas Indonesia sudah sulit untuk lolos meski menang telak 5-1 atas Laos pada pertandingan terakhir.

Kematangan Kurnia Meiga makin luar biasa di Piala AFF 2016. Kiper Arema itu tidak tergantikan dalam tujuh pertandingan yang dijalani oleh Tim Garuda lantaran pertandingan pertama fase grup mematok leg kedua pertandingan final.

Dalam fase grup, Kurnia Meiga melakukan begitu banyak penyelamatan. Kekalahan 2-4 dari Thailand dengan dialami Timnas Indonesia di sabung pertama bisa lebih buruk seandainya bukan Kurnia Meiga yang beruang di bawah mistar gawang.

Memiliki refleks yang luar biasa di Piala AFF 2016, Kurnia Meiga benar-benar membantu Timnas Indonesia untuk melangkah ke semifinal dan menyingkirkan Vietnam setelah melaksanakan dua leg pertandingan di sesi empat besar. Kurnia Meiga pun berjasa besar untuk membawa Awak Garuda melangkah ke final secara permainan yang cemerlang saat menghadapi Vietnam.

Timnas Nusantara memiliki peluang besar untuk menjelma juara setelah pada leg mula-mula final menang 2-1 atas Thailand di Stadion Pakansari, Cibinong. Sayang, kekalahan 0-2 dari Thailand dalam leg kedua membuat Tim Garuda kembali gagal menjadi juara.

Namun, lebih dari apapun, kiprah Kurnia Meiga bersama Timnas Indonesia sejak 2013 hingga 2016 merupakan yang terbaik di jarang kiper-kiper Timnas Indonesia lain pada satu dekade terakhir. Sayang, peradangan syaraf mata harus membuat Kurnia Meiga menepi dari lapangan muda hingga saat ini.

3 dari tujuh halaman

Hansamu Yama dan 3 Bek Senior di Garis Pertahanan

Bicara soal empat pemain yang menjadi pilar di lini belakang ulung Timnas Indonesia , Bola. com memilih tiga pemain yang cukup senior, yaitu Hamka Hamzah di pusat pertahanan, Benny Wahyudi dan Nasuha di dua sisi sayap, serta pemain muda Hansamu Yama Pranata sebagai tandem Hamka Hamzah.

Hamka Hamzah merupakan pilar pertahanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2010 beriringan Nasuha yang beroperasi di sisi sayap kiri. Kelugasan permainan Hamka dan kepemimpinannya sebagai seorang pemeran senior membuatnya mampu memperlihatkan prestasi terbaik di Piala AFF 2010.

Sementara itu, Nasuha memperlihatkan permainan yang sangat bagus dengan kecepatan dan kegiatan kerasnya sebagai pemain bertahan. Sempat mengalami luka di bagian kepala pada Piala AFF 2010 tak membuat Nasuha menyerah untuk membangun Timnas Indonesia bertanding.

Bahkan di dalam beberapa kesempatan, Nasuha mampu positif Tim Garuda membangun serangan, makin satu gol berhasil dicetaknya ke gawang Malaysia dalam leg ke-2 final Piala AFF 2010, meski pada akhirnya kemenangan 2-1 yang diraih Tim  Garuda tak berhasil menjadikan trofi juara sebagai hak Indonesia.

Sementara itu, Benny Wahyudi dan Hansamu Yama adalah pilar penting Timnas Nusantara di Piala AFF 2016. Benny Wahyudi sebenarnya sudah masuk di dalam skuat Garuda di Piala AFF 2010, tapi performanya benar-benar mutakhir terlihat di Piala AFF 2016.

Benny dan Hansamu Yama sukses membantu Tim Garuda mengulang sukses Piala AFF 2010, yaitu melangkah ke final, meski pada akhirnya trofi juara kembali terlepas. Bahkan Hansamu Yama berhasil membantu Tim Garuda dalam status penting, di mana ia berhasil mencetak dua gol pada kompetisi tersebut.

4 dari 7 halaman

Stefano Lilipaly Bersama Evan Dimas dan Bayu Pradana di Lini Tengah

Stefano Lilipaly adalah seorang gelandang serang yang luar piawai bagi Timnas Indonesia setidaknya pada dekade terakhir ini. Mengawali debut di dalam sebuah laga uji coba anti Filipina pada 2013, Stefano Lilipaly mencetak satu gol dan mulia assist yang diberikan untuk Greg Nwokolo.

Gol dalam pertandingan resmi dicetak Stefano Lilipaly ke gawang Singapura dalam Beker AFF 2016. Pada perhelatan menampar bola Asia Tenggara itulah Stefano Lilipaly menjelma menjadi andalan anyar Tim Garuda untuk sektor gelandang serang. Ia juga terpilih buat tampil sebagai satu dari tiga pemain senior di Timnas Nusantara U-23 yang berlaga di Asian Games 2018.

Keberadaan Stefano Lilipaly di sektor penyerangan dari lini tengah Timnas Indonesia rasanya sangat layak jika dibantu oleh Bayu Pradana sebagai membawa bertahan dan Evan Dimas yang menjadi penyeimbang.

Bayu Pradana adalah pemain yang baru mendapatkan debut bersama Timnas Indonesia di Beker AFF 2016, tapi kemampuannya berlaku untuk merebut bola dan mengalirkannya ke depan sangat luar pokok.

Sementara itu, Evan Dimas yang sudah menjadi sandaran Tim Garuda sejak masih terlibat di Timnas Indonesia U-19 yang menjuarai Piala AFF U-19 2013, memang berkembang pesat sejak era itu. Meski hanya mendapatkan satu kesempatan di Piala AFF 2014, Evan Dimas mampu tampil lebih baik saat Timnas Indonesia berkiprah baik di Piala AFF 2016.

Bicara soal penyeimbang lini tengah, Evan Dimas adalah sosok yang sangat tenang serta sangat elegan. Kerap menjemput bola hingga ke belakang dan melepaskan umpan-umpan terobosan yang mematikan ke lini serang maupun sayap, sering menjadi awal serangan yang dibangun Timnas Indonesia.

5 dari 7 halaman

Muhammad Ridwan dan Rizky Pora, Penopang Boaz Solossa di Depan

Boaz Solossa ialah bocah ajaib yang telah membela Timnas Indonesia sejak 2004. Namun, karisma dan kekuatannya sebagai striker Tim Garuda tak luntur hingga keikutsertaannya di Piala AFF 2016.

Tidak mendapatkan tempat pada Piala AFF 2010 dan Piala AFF 2012, Boaz masuk skuat Alfred Riedl pada Piala AFF 2014 dan 2016. Pemain pokok Sorong, Papua, itu mampu memperlihatkan performa yang baik meski tidak lagi muda.

Di dalam tujuh penampilannya di Piala AFF 2016, Boaz Solossa mempersembahkan 3 gol untuk Tim Garuda. Peristiwa tersebut tidak lepas dari kedudukan penting Rizky Pora yang berkecukupan di sektor kiri penyerangan Tim Garuda.

Piala AFF 2016 benar menjadi puncak performa Rizky Bagian bersama Timnas Indonesia walau tempat sudah masuk skuat sejak 2014. Pada Piala AFF 2016, Rizky Pora mencetak satu gol dan beberapa assist di Piala AFF 2016.

Penampilan suci sebagai pemain sayap yang mempunyai kaki cepat dan umpan palang salib bagus membuatnya kembali dipanggil era Timnas Indonesia beraksi dengan sejumlah pemain muda di Piala AFF 2018.

Untuk menutup lini depan, tampaknya Muhammad Ridwan yang menjadi pemain sayap kanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2010 adalah yang paling benar. Kemampuannya berlari dengan kecepatan & merangsek ke pertahanan lawan sudah tak perlu diragukan.

Tiga lulus di Piala AFF 2010 adalah bukti ketajamannya sebagai pendukung pukulan. Ridwan sudah membela Tim Garuda sejak Piala Asia 2007. Ia juga menjadi pilihan utama di sisi sayap saat Timnas Indonesia menjalani Kualifikasi Piala Dunia 2014.

Selain itu, dia juga tetap dipercaya Riedl yang menjadi pelatihnya pada 2010 untuk masuk dalam skuat Garuda di Piala AFF 2014. Etos kerja yang tinggi mendukung kemampuan Ridwan yang memiliki kaki yang cepat dan kemampuan menusuk pertahan sebab sayap yang sangat bagus.

6 dibanding 7 halaman

4 Supersub Penting

Harus diakui betul sulit untuk menentukan 11 pemain terbaik Timnas Indonesia dalam satu dekade terakhir. Bola. com bahkan sampai kudu menentukan satu dari dua alternatif sulit di beberapa posisi. Di bagian ini, ada empat pemeran yang sebenarnya layak masuk pada 11 pemain terbaik.

Pemain pertama adalah Cristian Gonzales. Striker naturalisasi Timnas Indonesia itu merupakan tumpuan besar Tim Garuda di Piala AFF 2010. Dia mendapatkan kepercayaan bermain dalam setiap pertandingan yang dijalani Tim Garuda, dengan mencetak tiga gol, dalam mana dua di antaranya tercipta di semifinal saat menghadapi Filipina.

Kemudian ada Zulham Zamrun dan Andik Vermansah yang sama-sama beroperasi di sisi sayap. Keduanya memiliki kelebihan bisa bermain di kedua sisi sayap.

Bicara soal Piala AFF, Andik sudah mengakar skuat sejak 2012, di mana saat itu para pemain diambil dari Indonesia Premier League. Andik pun berhasil mencetak satu lulus dalam kejuaraan tersebut. Sementara Zulham memulai pada Piala AFF 2014 di bawah asuhan Alfred Riedl. Zulham mencetak tiga gol di kejuaraan tersebut.

Andik dan Zulham kemudian sama-sama menjelma pemain yang cukup penting pada perjuangan Timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Andik lebih kala bermain sejak awal pertandingan, tapi diganti di babak kedua. Sebaliknya, Zulham menjadi supersub yang baik di Piala AFF 2016 & sukses mengantar tim mencapai final.

Sayang Andik harus mengalami cedera saat Timnas Indonesia menang 2-1 di leg pertama final Beker AFF 2016. Sebuah penyesalan bagi Andik karena tidak bisa tampil di leg kedua sehingga memupus harapannya untuk membantu Tim Garuda meraih gelar juara.

Andik kembali masuk dalam regu Garuda di Piala AFF 2018. Namun, di bawah Bima Makbul, Tim Garuda tidak banyak cakap di kejuaraan tersebut.

Satu sedang pemain yang layak masuk dalam supersub di tim ini adalah Zulkifli Syukur. Pemain yang berposisi sebagai bek kanan ini hadir luar biasa di Piala AFF 2010. Ia merupakan pilihan istimewa Alfred Riedl saat itu, pada mana Benny Wahyudi hanya menjelma pelapisnya saat itu.

Namun, ketika kembali terpilih sebagai bagian dari skuat asuhan Alfred Riedl pada Piala AFF 2014, Zulkifli Syukur tampil tidak maksimal dan gagal mengantar Timnas Indonesia bisa bicara banyak di kejuaraan yang digelar di  Vietnam tersebut.

7 dari 7 halaman

Guru

Memang di dalam 10 tahun terakhir ada nama-nama seperti Benny Dollo, Wim Rijsbergen, Nilmaizar, Aji Santoso Luis Blanco, Rahmad Darmawan, Jacksen Tiago, Luis Milla, Bima Sakti, Simon McMenemy, dan yang terbaru adalah Shin Tae-yong. Namun, dari semua nama yang ada mungkin Alfred Riedl adalah yang paling memiliki memori bersama Timnas Nusantara dalam satu dekade ini.

Alfred Riedl  terhitung tiga kali menjadi pelatih Timnas Indonesia dalam satu dekade terakhir ini. Alfred Riedl tercatat tiga kali memimpin Tim Garuda di Piala AFF, yaitu 2010, 2014, dan 2016.

Dalam edisi pertama dan final, pelatih asal Austria itu memimpin tim mencapai final. Sayang, dalam dua edisi itu juga Alfred Riedl belum berhasil mempersembahkan membuat juara Piala AFF pertama buat Indonesia.

Pada era pertamanya menghantam Tim Garuda dalam persiapan Piala AFF 2010, Riedl terkenal sangat disiplin. Hal itu yang mendirikan Tim Garuda begitu menyatu dan mampu tampil luar biasa tenggat ke partai puncak sebelum tergelincir saing dengan Malaysia.

Pada Piala AFF 2014, Riedl dihadapkan dengan tim yang belum benar-benar siap lantaran sepak bola Indonesia sempat mengalami dualisme di beberapa tahun sebelumnya. Riedl kendati gagal mengangkat performa Tim Garuda, yang akhirnya harus tersingkir pada fase grup seperti pada edisi 2012.

Riedl balik mendapatkan cobaan pada periode ketiganya memimpin Timnas Indonesia pada 2016. Saat itu, PSSI baru selalu bebas dari sanksi pembekuan FIFA. Dalam waktu sekitar enam kamar, Riedl diminta untuk mempersiapkan awak untuk berlaga di Piala AFF 2016.

Satu hal yang membina Riedl makin kesulitan. Pelatih dengan sudah cukup tua itu hanya boleh mengambil dua pemain sejak masing-masing tim yang tampil di kejuaraan Indonesia Soccer Championship A 2016. Artinya, Riedl tidak memiliki pilihan yang bebas dan cuma bisa mengambil dua pemain ulung dari setiap klub yang ada di Indonesia.

Namun, dalam keterbatasannya itu, Riedl mampu membentuk tim yang kuat. Pemfokusan latihan panjang dilakukannya setiap kamar, mulai dari seleksi di Pakansari, pemusatan latihan di Solo had Karawaci, membuat Tim Garuda asuhan Riedl ini siap untuk beradu di Filipina.

Hasilnya, Riedl mampu kembali mengantar Timnas Indonesia melangkah jauh hingga ke final. Sayang, trofi yang telah ada di depan mata kembali gagal diraih setelah kemenangan 2-1 yang diraih Timnas Indonesia di leg pertama pertandingan puncak dibalas oleh Thailand yang menang 2-0 di kandang mereka pada leg kedua.

View this post on Instagram

Kira-kira inilah starting XI timnas Indonesia kalau dibuat di dalam satu dekade terakhir versi Bola. com: ⠀ Formasi 4-3-3 ⠀ Kiper: Kurnia Meiga ⠀ Bek: Benny Wahyudi, Hamka Hamzah, Hansamu Yama, M. Nasuha ⠀ Membawa: Bayu Pradana, Evan Dimas, Stefano Lilipaly ⠀ Depan: M. Ridwan, Boaz Solossa, Rizky Pora ⠀ Cadangan: Zulkifly Syukur, Andik Vermansah, Zulham Zamrun, Cristian Gonzales ⠀ Pelatih: Alfred Riedl ⠀ Membaca berita lebih lengkapnya dalam tulisan “Komposisi Terbaik Timnas Indonesia dalam Dekade Terakhir” di website Bola. com ya. ⠀ ⠀ #BolacomID #TimnasIndonesia #Indonesia #BLCAP

A post shared by Bola. com (@bolacomid) on

Disadur dari Bola. com (Benediktus Gerendo)